Ummul Mukminîn, Khadijah ra adalah simbol seorang istri yang setia kepada Nabi. Ia ikut berbahagia ketika Nabi bahagia; turut bersedih ketika beliau sedih; memotivasi beliau saat berada dalam kesulitan; dan turut menanggung beban dan kesulitan di jalan Allah bersama beliau. Inilah kelebihan yang Allah anugerahkan pada diri Khadijah.

Setelah Khadijah meninggal, Rasulullah pun menunjukkan kesetiaan padana. Beliau memuliakan sahabat-sahabat Khadijah; bersikap ramah kepada sanak familinya; dan selalu menyebut-nyebut kebaikan dan memuji dirinya.

Suatu ketika, Nabi menyanjung-nyanjung Khadijah di hadapan istri beliau, Ummul Mukminîn, Aisyah ra,  sehingga membuatnya cemburu. Aisyah berkata, “Bukankah ia (Khadijah) hanya seorang wanita tua, yang Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik?”.

Ucapan Aisyah itu membuat Rasulullah sangat marah. Beliau berkata, “Demi Allah, Allah tidak pernah menggantikannya dengan  yang lebih baik daripadanya. Ia mau beriman kepadaku, saat orang-orang inkar kepadaku; ia membenarkan, saat orang-orang mendustakanku; ia memberikan apa yang ia punya, saat orang-orang mengharamkannya kepadaku; dan dengannya, Allah memberiku keturunan, tidak seperti istri-istri (ku) yang lain”.